Piala Dunia Argentina berjuang agar tidak mengherankan dan membuat masalah yang meluas, karena kurangnya arahan

Tak ada orang yang ikuti Argentina akhir-akhir ini mungkin saja bakal terperanjat dengan tampilan piala dunia mereka. Mereka berantakan, serta sudah menuju maksud itu untuk sekian waktu. Sebabnya periode pendek serta panjang. Yang paling akhir, periode panjang, ada hubungan dengan kemunduran yang mengherankan dalam pekerjaan pengembangan golongan muda mereka. Pada 1995 serta 2007 mereka memenangi Piala Dunia U-20 pada lima peluang terpisah. Bahkan juga lebih utama dari pada kemenangan yaitu pemain yang selalu mereka produksi untuk tim senior. Namun sumurnya telah kering. Semuanya tim Under-20 Argentina yang pada awal mulanya sudah miskin – serta itu, pada gilirannya, sudah disaring ke beberapa senior. Mereka saat ini tak mempunyai penjaga gawang kelas atas, bek tengah, bek tengah, serta gelandang tengah. Mereka mempunyai kwalitas dalam menyerang tempat, namun tanpa ada soliditas dibagian lainnya dari tim untuk membawanya.

Permasalahan periode pendek datang dengan pelatih, Jorge Sampaoli, orang ke-3 yang memimpin Argentina sepanjang kampanye kwalifikasi traumatis mereka. Rekam jejaknya bicara untuk dianya. Dia sudah membuahkan sebagian segi yang sangatlah menarik. Tetapi dia yaitu seseorang pelatih dengan satu inspirasi serta Argentina sekarang ini kekurangan sumber daya untuk melakukannya. Segi Sampaoli dengan cara tradisionil menghimpit dengan berang di separuh lapangan yang lain, menghimpit lawan kembali serta melemparkan beberapa orang ke depan untuk membuat kelebihan numerik yang mendekati gawang. Minimnya langkah defensif Argentina bikin itu bukanlah starter – lantaran kekalahan pemanasan yang berat untuk Nigeria serta Spanyol makin terang. Dengan timnya tak dapat bermain seperti ini, Sampaoli betul-betul bingung perihal apa yang semestinya dikerjakan beberapa pemainnya. Timnya kerap berbaris dengan tiga bek. Tetapi ia meninggalkan system sesudah pertahanannya tidak berhasil untuk menaklukkan Nigeria 4-2 November kemarin. Dia mulai bangun timnya di belakang empat dengan Federico Fazio lamban di bek tengah. Dia kehilangan kesabaran dengan itu sepanjang persiapan, serta untuk kompetisi kiprah melawan Islandia ia pergi dengan empat kembali serta termasuk juga Marcos Rojo.

Artikel Terkait :  Cristiano Ronaldo 'memiliki kebiasaan melemparkan dirinya ke tanah' - Gerard Pique

Untuk kompetisi Kroasia ia kembali pada belakang tiga – system yang pada awal mulanya sudah tidak diterima. Sampaoli senantiasa memberi tampilan chihuahua kecil, mengoceh waktu ia mengambil langkah ke atas serta ke bawah garis bawah. Dalam keputusasaan, dia saat ini nampaknya menguber ekornya sendiri. Nalar di belakang tiga belakang ini simpel. Melawan Islandia, Argentina coba bikin semuanya lewat tengah hingga dia mau buka lapangan dengan sepasang sayap belakang, memberikannya lebar yang tinggi. Sisi belakang tiga, walau, sudah tidak diterima lantaran tiga argumen. Pertama, lini tengah tak menghimpit, bikin terang permasalahan ke-2 ; tanpa ada langkah defensif, garis belakang mundur, buka ruangan untuk oposisi. Serta itu beresiko permasalahan nomer tiga – punggung sayapnya yaitu sayap fakta. Mereka saat ini diinginkan untuk lari kembali sejauh 80 mtr. serta bertahan di ujungnya. Selama malam melawan Kroasia, Argentina memainkan roulette Rusia dengan ruangan yang ditinggalkan di belakang sayap kanan mereka. Di sinilah Kroasia lakukan beberapa besar rusaknya mereka.

Mereka dibantu oleh kekeliruan aneh – namun sayangnya bisa diperkirakan – dari penjaga gawang Willy Caballero. Sampaoli berikan veteran kiprah kompetitifnya dalam kompetisi melawan Islandia. Dia mungkin menanti penjaga gawang pilihan pertama yang normal, Sergio Romero, untuk jadi sehat, namun memotongnya dari skuad lantaran permasalahan lutut serta pergi dengan Caballero – pura-pura, serta menggelikan, lantaran kapabilitasnya diluar garisnya. Sampaoli sadar kalau system barunya bakal hadapi permasalahan melawan lini tengah yang melalui bola serta pemain Kroasia. Jadi dia membawa gelandang berjuang, Enzo Perez, untuk bermain berbarengan Javier Mascherano. Perez bahkan juga bukanlah sisi dari skuad asli, serta cuma sukses ke Rusia jadi pengganti Manuel Lanzini yang cedera. Kenyataan kalau ia terlempar ke pilihan pertama yaitu bukti kebingungan dipikiran pelatih – yang saat ini mesti konsentrasi pada jalan keluar lainnya, improvisasi serta mengharapkan kalau kemenangan melawan Nigeria Selasa depan bakal cukup untuk menjaga Argentina hidup dalam pertandingan.

Artikel Terkait :  Jurgen Klopp : Peranan Salah Sangat Penting Untuk Liverpool

Simak :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2018 Agen Sbobet | Agen Judi | Agen Casino | Bandar Bola | Judi Online All Rights Reserved. Frontier Theme